Kamis, 31 Maret 2016

Sastra dan Budaya


1. Definisi Teori Sastra Budaya
                Teori sastra budaya adalah usaha pembaca untuk melihat hubungan antara teks,pengarang dan pembaca dengan sosial,politik,ekonomi,bahasa,agama dan kesenian hasil refleksi terhadap pembasaan sebuah teks sastra.
                 Menurut Niall Lucy (2000:234)  teori ini bersifat disiplin dan eklektikal yang menjadi saingan dengan bidang sastra perbandingannya itu. Graham Holderness melihat budaya yang berhubungan dengan perjuangan,ketegangan dan kontradiksi yang berlaku dalam sebuah budaya,yang konteks dengan ideologi dan kekuasaan(1991:34). Sesuai sebagai teori konteks,yang melihat hubungan sastra dan  budaya teori ini memberi kesadaran  budaya dalam membentuk kehidupan. Cultural studes have evolved a method of describing culture in action.
                Alan Sinfield(1992:9) menyatakan politik dan kekuasaan dalam teori budaya lebih kuat  dan dekat berbanding dengan teori lainnya terutama historisisme baru. Teori sastra budaya menganalisis secara analitikal dan rinci serta masuk kedalam budaya teks untuk memperlihatkan konsep politik  dan kekuasaan. Tujuan analisis teori budaya ialah mencoba memberi makna akan tanda-tanda budaya yang terdapat dalam sebuah teks sastra dan mengarah kepada aspek mengungguli kekuasaaan. Apa yang disuarakan oleh pengarangnya tentang kekuasaan tidak lain adalah  percikan budayanya.Alan Sinfied juga menyatakan  bahwa teori budaya mengkaji segala tindakan manusia memasuki dan membentuk masyarakatnya (1992:291). Teori budaya tidak secara langsung membicarakan konsep humanisme. Dalam konteks ini juga,perubahan-perubahan selalu diiringi  oleh irama zamannya atau dia sendiri yang menciptakan irama perubahan itu. Alan Sinfield menghubungkan kajiannya dengan budaya pascamoden,yang secara drastis budayanya tumbuh dan berkembang dengan cepat dan tangkas. Pascamoden adalah suatu  zaman perubahan daya dan inilah yang dihadapi oleh teori budaya (Chow,Rey.1993:125)




SEJARAH PERKEMBANGAN TEORI SASTRA

2.1 Sejarah Pertumbuhan
Dasar-dasar bisa adanya teori sastra budaya dimulai dari disiplin itu sendiri. Budaya  sebagai disiplin ilmu mempunyai sejarah panjang dan konsep yangpluralistis. Konsep atau definisi budaya mempunyai artian yang selalu berubah-rubah. Menjelang dekat 1990-an,budaya sudah dikatakan telah muncul sebagai satu bidang disiplin yang tersendiri,tidak menjadi bagian disiplin ilmu lain.
Persoalan kehidupan manusia  yang sama atau berbeda telah menaruh perhatian terutama apabila orang-orang  barat bertemu dan berhubungan dengan dunia  luar. Dalam pertemuan itu,mereka telah melihat terdapat perlakuan yang berbeda antara yang biasa mereka lakukan dengan orang-orang yang mereka temui itu. Penemuan serta pengetahuan-pengetahuan ini dibawa balik ke barat oleh pengembara,pengembang-pengembang agama,para pedagang serta pegawai kolonial. Untuk mengemukakan persamaan atau perbedaan yang tampak dalam pola kehidupan itu,mereka telah membuat pembagian tentang budaya-budaya pada masyarakat lain yang telah mereka temui berdasarkan kelakuan (behavior) mereka. Akhirnya,kerangka penceritaan dan pemerian ini menjadi dasar kepada pernyataan terhadap budaya sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Edward B.Tylor dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1871. Edward B.Tylor telah mentakrifkan budaya sebagai “Satu keseluruhan yang kompleks mengandung pengetahuan,kepercayaan,kesenangan,akhlak,undang-undang,adat dan kebolehan serta tabiat lain yang diperoleh oleh manusia  sebagai angggota  masyarakat (Morgan G,1994). Takrifan ini sangat terkenal sehingga mempengaruhi disiplin-disiplin ilmu yang lain.
Budaya mempunyai sistem adaptif,yaitu bukan saja dilihat dalam pengertian berkisar sesama manusia tetapi juga turut diungkapkan tentang kehadiran manusia dalam lingkungannya yaitu melihat dari segi human in environment. Manusia dianggap sama seperti binatang karena manusia dilihat “terpaksa” mengikat hubungan adaptif atau penyesuaian dengan ekosistem atau sistem ekologi mereka demi menjamin kelangsungan hidup. Oleh karena itu,pada pandangan pedukung perspektif  ini,budaya ditakrifkan tidak lebih hanya satu cara yang merujuk kepada teknik–teknik yang nyata dan dengan sekelompok penduduk mengikatkan diri mereka pada sekitarnya. Pentakrifan di atas adalah berasaskan kepada perkiraan bahwa alam jadi seperti persekitaran dan unsur-unsur ideologikal memainkan peranan yang penting dalam mencorakkan kehidupan serta kemajuan sebuah kelompok manusia. Tokoh yang mempelopori gagasan budaya sebagai sistem adaptif termasuk Julian Steward,Leslie White dan Daryl  Forde. Gagasan ini kemudian dimajukan oleh Roy Pappaport,P.Vayda dan Marvin Harris (Bennett,D.1993:62-68)
Dari takrifan di atas telah dihasilkan beberapa andaian. Pertama,budaya adalah lebih kepada hanya untuk menyesuaikan manusia dengan lingkungannya. Semua aspek budaya seperti ekonomi,pola penempatan,politik,sistem kepercayaan ,sistem sosial sebagainya adalah diwujudkan untuk menetapkan keseimbangan bagi hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya. Perubahan yang berlaku disebabkan kerusakan keseimbangan yang berlaku karena ada kerusakan dari aspek persekitaran demografi ataupun dalam bidang teknologi. Jadi budaya sebagai sistem adaptif harus mengambil aspek-aspek atau teknologi sebagai aspek terpenting dalam budaya tersebut.
Hakikat ini boleh dilihat melalui tulisan White (1949) dan Harris(1974).White melihat dari sudut pertambahan penggunaan tenaga akibat dari perubahan dalam kemajuan teknologi. Ketika Harris membahas aspek ekonomi sebagai realiti utama kepada budaya. Malah pada pandangan beliau kepercayaan atau agama adalah sengaja diwujudkan untuk menyamar tujuan ekonomi tersebut. Gagasan beliau akhirnya lebih dikenal sebagai materialisme budaya (1979). Beliau mengakui bahwa gagasan yang telah dikemukannya tetap relavan hingga kini terutamanya dalam penyelidikan budaya(1994:62). Paparport(1965) telah berjaya menghasilkan kajian yang baik berdasarkan kepada konsep budaya sebagai sistem adaptif. Dalam pengkajian melalui kaidah ini,Pappaport telah mengetengahkan budaya tembaga,yaitu sekumpulan masyarakat orang asli yang hidup di pergunungan di Bishmarck di New Guinea. Uraian ini berkisar tentang upacara kaiko yang dibuat dalam kerangka konsep budaya sebagai suatu sistem adaptif.
Sungguhpun dalam takrifan budaya awal yang telah dikemukakan oleh Linton (1940),Kluckhon,Kelly (2945) dan Kroeber(1949) telah menyebut aspek mentalistik tetapi paradigmanya  dilihat dan lebih berteraskan kepada perlakuan. Setelah tahun 1950-an,mulai dilihat usaha-usaha untuk mengalih paradigma tersebut di dalam berbagai disiplin ilmu seperti dalam bidang pengajian budaya, linguistik maupun psikologi.
Dalam penelitian budaya,tokoh-tokoh seperti Geertz, Goodenough,Hall,Schneider,Wallace telah mengajukan cadangan bahwa budaya mengandungi bukan kelakuan tetapi uraian budaya berasaskan perlakuan maka apa yang dilihat ialah perlakuan itu terkait dengan keadaan luaran seperti di sekitarnya. .Sebaliknya,pandangan tehadap budaya  berasaskan minda atau idea itu memberikan penekanan kepada pancaran dalaman. Pada pandangan pendokong aliran ini,seorang penyelidik akan gagal mengungkap sebuah budaya seandainya hanya melihat kepada aspek perlakuan saja.
Dalam takrifan ini pengetahuan secara tipikal mengandung rumus-rumus yang membutuhkan seseorang membuat ketentuan seperti dimana mau tinggal,bagaimana masyarakat dijeniskan,bagaimana perbedaan harus dinyatakan, bagaimana perasaan seseorang tentangnya dan sebagainya. Pembangunan konsep budaya seperti ini selain pengaruh dari beberapa ahli teori Eropa seperti Pisaget ,Saussure  dan Levi-Sttrauss adalah didorong oleh perkembangan komputer. Budaya dilihat sebagai suatu sistem pengumpulan maklumat. Dalam hal ini Geertz telah mengemukakan takrifannya dalam bukunya the interpretation of culture(1973) seperti berikut: “Budaya ialah satu pensejarahan pemindahan pola-pola makna yang terkandung dalam lambang-lambang itu manusia berhubungan, melanjut dan membangun pengetahuan dan sikapnya terhadap  kehidupan”.
            Menurut Geertz budaya sistem makna serta lambang itu bukan saja berperan sebagai ilmu pegetahuan tetapi ia juga dikongsi bersama,ataupun di istilahkan oleh Geertz sebagai bersifat publik atau awam. Untuk menunjukan kedudukan ini,ia boleh dianalogi dengan menggunakan bahasa. Dari satu segi,bahasa adalah pengetahuan yang terletak dalam idea seorang manusia. Dibalik hakikat itu,bahasa merupakan fenomena awam serta bahasa adalah tersedia wujud sebelum anggota barunya lahir. Anggota yang baru lahir itu perlu mempelajari bahasa tersebut dan  bukan untuk disimpan tetapi digunakan dikalangan mereka. Tidak semua orang mengetahui semua perkataan dalam suatu bahasa dan tidak pula boleh menggunakannya dengan sepenuhnya. Perubahan bahasa tidak bergantung kepada individu. Sebagai alat atau lambang perhubungan dalam sebuah masyarakat,bahasa akan dapat terus kekal walaupun terdapat individu yang meninggal dalam sebuah kelompok masyarakat tersebut. (Cashmore,Ellis dan Rojek Chris,1999:184)
Budaya juga dapat  dilihat dari proses sosial,penciptaan dan penggunaan makna serta lambang sudah tentu tidak berlaku secara perseorangan. Ia berlaku di dalam proses sosial,yaitu proses perhubungan di kalangan sesama anggota masyarakat berkenaan. Contoh pembinaan makna dan lambang yang dikongsi ini dengan menggunakan ilustrasi anjing dan sebatang kayu. Antara tuan dengan anjing tersebut tercipta perkongsian makna dan lambang,yaitu apabila tuan melemparkan batang kayu berkenaan,anjing itu akan mengejar dan membawanya semula kepadanya.
Belakangan ini,budaya hanya dianggap sebagai sebuah persembahan atau maksud artifak. Budaya dipersembahkan sebagai suatu proses sosial dengan setiap anggota masyarakatnya bertindak mengikuti tafsiran sendiri terhadap sistem makna dan lambang yang ada penyelidikan budaya dalam konteks proses sosial juga dianggap sebagai mentafsir yaitu penyelidik mentafsir atau menginterpretasi budaya(lambang dan makna) masyarakat yang diterkaitnya itu. Walaupun lebih berupa interpretasi tetapi penyelidikan budaya dalam konteks ini perlu dibentuk dalam konteksya dan mempunyai latar  belakang uraian yang lengkap. Biasanya penyelidikan dalam konteks ini cenderung untuk mentafsir makna dan lambang di dalam kehidupan sebuah masyarakat itu mengikuti pandangan natif atau tempatan karena itu juga akhir-akhir ini penyelidikan budaya telah mengubah tumpuannya dari mengatasi aktivis sosial kepada keterangan berupa kategori, metafora,retorik,mimpi,cerita dan sebagainya.
Kebanyakan penyelidikan yang mengambil lambang dan makna akan mentafsirkan berdasarkan kepada kerangka teori Marxisme yang digunakan secara longgar  seperti kelas sosial,kapitalisme dan sistem ekonomi dunia. Mereka berpendapat bahwa lambang dan makna itu lebih baik dilihat dalam  konteksnya berbanding dengan penerangan sistematik begitu saja dan pembinaannya terkait erat dengan kepentingan ekonomi dan politik. Oleh karena itu,lambang  dan makna yang dianggap wujud di dalam proses sosial itu senantiasa saja memperlihatkanpertelingkahan tentang (atas) lambang dan makna itu. Penyelidikan yang telah dikemukakan oleh James  Scott di atas adalah dalam pendekatan tersebut. Beliau telah meneliti ke atas unsur-unsur budaya seperti umpat-mengumpat,mencaci nama dan cerita-cerita lisan bagi melihat pertentangan penduduk (petani) miskin ke atas orang kaya di kampung mereka. Kesemua itu bukanlah hanya merupakan “Senjata-senjata” kecil mereka untuk mencabar penguasaan dan penindasan yang dilakukukan oleh kelas atasan terhadap mereka. Senjata kecil di atas dikategorikan sebagai ideologi.
Kemunculan disiplin pengkajian budaya telah membawa jalur lain dalam pentakrifan budaya. Pengkajian budaya menggunakan konsep budaya dalam pengertian yang menjurus dan sempit yaitu:  “Pencapaian kahalusan  artistik dan estetik yang tertinggi dalam sebuah masyarakat  yang  kompleks”. Pengertian itu adalah pengertian awal budaya yaitu sebagai seni tinggi. Kemunculan disiplin pengkajian budaya juga serta takrifan budaya yang dipakainya adalah dipengaruhi oleh teori kritik sastra dan seni pascamoden dan juga perspektif feminisme.
Pokok pembahasan budaya dalam kerangka  konsep ini ialah tentang aspek bentuk,simbolis dan makna,proses pengeluarannya,hegemoni,kuasa serta pengetahuan. Di dalam konsep budaya secara antropologikal,telah mengenepikan aspek-aspek di atas di dalam penelitian mereka. Umpamanya,seorang penyelidik budaya yang telah membuat kerja lapangan di New Guinea,ia hanya tertegun kepada kepurbaan  arah hidup mereka. Akibatnnya,beberapa dimensi budaya yang lain seperti kedudukan persejarahan dan pengeluaran   kuasa hagemoni makna budaya dilupakan begitu saja. Para penyokong feminis dan pos-Marxis menegaskan ,penyelidikan budaya dalam pengkajian budaya lebih tertarik kepada persoalan hagemoni dan dominasi yang tersembunyi di balik bentuk-bentuk budaya yang dikategorikan  sebagai seni tinggi.

 2.2 Kemunculan Sebagai Teori Sastra

Historisme baru dibina oleh golongan new historian dengan slogannya back to the history,tokohnya yang  paling terkenal ialah Stephen J. Greenblatt,yang pada peringkat awalnya menamakannya dengan cultural poetics atau puitika budaya. Dapat ditegaskan bahwa teori sastra budaya  berasal dari pada pemikiran  sastra dan metode kritikan yang  digunakan oleh Richard Hoggart  dan Raymond Williams,yang kedua-duanya berasal dari tradisi kritikan marxisme british.
Richard Hoggat (1918-)adalah profesor bidang pendidikan yang banyak berkhidmat di universitas  di England. Pengkhususan kajian ialah dalam kulturalisme,kritikan praktikal dan demokrasi sosial .
Teori budaya yang menjelma menjadi teori sastra itu berasal dan berakar daripada pemikiran-pemikiran pasca perang dunia kedua,akhir kurun kedua ke arah pembentukan budaya baru termasuk konsep modenisme, indutrialisasi, purbanisasi,teknologi dan komunikasi massa.
Dalam kajian Raymond William,pemikiran dan analisis berasaskan bacaannya kepada teks-teks  romantitisme. Teks-teks romantitis memiliki unsur-unsur kemanusiaan yang mendalam dan semangat revolusioner.
Pada 1970-an,cultural studies dimasuki oleh pemikiran dan konsep yang dikemukakan oleh Antonio Gramsci yaitu tentang hagemoni: term denoting invisible relations of cultural or intellectual domination. Roger Webster(1990:63) menyataan bahwa teori studi budaya sangat terhutang budi dengan konsep hagemoni melalui pemikiran Gramsci. Konsep hegemoni mempunyai hubungan dengan ideologi,kuasa dan pengaruh.
Dalam buku Louis Althusser ideology dan ideological state apparatuses1971 menjelaskan sebuah  upaya yang maju tidak saja sebagai pengeluar material juga pengeluar  misyen-misyen dan seluruh tenaga daripada berbagai sudut sosial dan budaya mesti menyokong ke arah pengeluaran misyen–misyen tersebut.
Dapat dibuktikan teori studi budaya,sebenarrnya sudah mempunyai sejarahnya yang panjang. Pada tahun 1990-an ,ia mengikhtiarkan dirinya sebagai sebuah teori sastra yang mandiri. Suatu aspek yang perlu ditegaskan bahwa teori studi budaya erat kaitannya dengan perkembangan pendidikan,justru ia menjadi ciri terpenting dalam konsep budaya. Seandainya historisme baru dekat dengan sejarah ,psikoanalisis dengan psikologi atau marxisme dengan masyarakat,maka teori budaya dekat dengan dunia pendidikan.(Womack,Kenneth,(1999:596- 597).
Bloom merupakan seorang profesor yang terkenal pada masa itu yang juga terlibat di dalam The Committee On Social Thought dan turut mengajar di kolejuniversity of Chicago telah mengkritik mengenai keadaan kemanusiaan pada masa itu yang dikatakan sudah ketinggalan zaman,zaman seperti atlantis yang telah tenggelam. (Wolfrey,Juniem,1999:596)
Sebagai tambahan,Bloom juga telah mengkritik motif-motif  lural oleh para penyokong penggubalan kanun. Bloom juga mendukung mengenai penemuaan-penemuan kesusastraan yang terkenal yang datang dari barat dan  juga pemusatan budaya,karena mereka menembusi membaca-membaca muda.
Sejak tahun 1990-an hingga ke penghujungnya dan seterusnya memasuki abad ke-21,kritikan teori sastra budaya terus berkembang dalam cara-cara yang kentara dengan penuh tanda tanya. Perkembangan teknologi dan komunikasi yang tidak terdapat pada era abad ke-21 ini, pengkajian budaya semakin dipelbagaikan dan bidang kajiannya semakin terbuka luas.

2.3 Pembinaan Teori
Kejayaan teori ini berpisah dengan new  historisme karena keengganannya masuk ke dunia sejarah telah membolehkannya membina tradisi kritikan yang tersendiri (Hawthorn,Jeremy,1996:5). Teori ini telah membuktikan bahwa ia tidak ada kesesuaiannya dengan pemikiran konsep wacana yang menghubungkan dengan sejarah yang dibawakan oleh Faucalt Hawthorn,Jeremy,1996:33). The achievements of cultural studies is allowing stuents of literature arises and gives access to. (Hawthorn, Jeremy,1996:228)
Tiga orang tokoh sering dikaitkan dengan pembinaan teori  budaya ini mereka ialah J.Hillis Miller,Ian Chambers dan Alan Sinfield. Menurut pendapat Miller,manusia kini  adalah pelanggan budaya dan dunia global terkini menyediakan berbagai warna dan persilanngan budaya,maka kita haruslah pandai memilih yang sesuai dengan diri dan masyarakat kita,jika tidak budaya manusia aka menuju kehancuran, cultural has a new meaning now. (1999:606-610)
Dewasa ini,masayarakat bergerak ke budaya hybrid,suatu proses intertekstual berbagai budaya dan membentuk budaya hasil persilangan atau perkawinan antara budaya yang berbeda. Budaya hibrida yang dikemukakan oleh Homi Bhabha memiliki dasar budaya asal tetapi akibat daripada persilangan budaya lain ialah tidak lagi membawa seaslinya.(Yasraf  Amir Piliang, 1998:172). Sapardo Djoko Damono,mengatakan bahwa sastra Indonesia mencapai kemajuannya karena ia bersifat hibrida,hasil persilangan dengan sastra daerah dan sastra Eropa.
Yang paling relevan  di sini ialah bahasa dalam pascastrukturalisme kajian tentang budaya sebagai sistem tanda dengan itu makna budaya dapat dipahami melalui tanda-tanda. Pada akhirnya kita semua terjebak dalam bahasa dan kita memperoleh budaya melalui bahasa kita adalah makluk yang berbicara . Untuk memahami budaya,kita mesti mengerti struktur yang berfungsi di dalamnya dan pola dasar yang membentuknya(Osborne,Richard dan Van Loon,Borin, (1998:115). Hubungan teori sastra budaya dengan pascastrukturalisme,diakui oleh Jeremy Howthon (1994:133-134),tidak saja secara teorikal juga falsafah dan praktisnya. Ini menunjukan bahwa kaidah  operasi teori budaya ialah dipengaruhi atau menggunakan mekanisme semiotic dan intertekstualiti.
Singkatnya,karena budaya ini mencampurkan segala disiplin dari dekonstruksi dan pascamodenisme ke kajian gender dan  kritikan envilomental. Ia adalah teori yang paling sesuai menangani isu globalisasi terkini.

Proses terbentuknya teori budaya menjadi teori sastra:
§  Sejarahnya bermula dengan epistemologi budaya, yang konsepnya dan pendekatan-pendekatannya mengenal susunan kehidupan dan mempunyai kaitan budaya sebagai tata hidup,yang bukan hubungannya tamadun dan kuasa. Ia bersifat kompleks,pluralistik juga relativisme.
§  Munculnya fahaman cultural materialisme yang sejalan dan bersahabat dengan historisme.
§  Berpecah daripada historisisme baru dan mengikhtiarkan sebagai studi budaya.

Beberapa dasar kaidah analisis teks ialah:
§  Mengkaji bagaimana wacana budaya beroperasi dalam mengungguli ideologi kekuasaannya.
§  Mengkaji indvidu dalam pembentukan individualiti dalam gerakan budayanya yang dihubungkan dengan pembentukan sosial yang mengarah pada konsep kehebatannnya.
§  Meneliti pergolakan pembudayaan,terutamanya,dalam aspek pendidikan, ekonomi,sosial dan sebagainya.
§  Meneliti kekayaan,pelestarian dan pertanda  artifak.
§  Menganalis realiti struktur ideologi budaya pascamoden dan pascakolonial termasuklah konsep hibridisme.
Dalam menggunakan paradigma kritikan teori studi budaya,beberapa pendekatan yang sesuai boleh diaplikasikan seperti meneliti aspek latar budaya teks atau citra budayanya, meneliti perjuangan-perjuangan individu atau masyarakat,menganalisis kekuasaan budaya terutamanya aspek politik dan pengaruhnya dalam  kehidu[pan sambil memberi penekanan kepada sudut artifak daripada sudut nilai dan perubahan yang dihadapinya.

- Freud ala surealis                   :sastra budaya
- Ajo Derrida                           :dekonstruksi
- Kate Millett                            : Feminis!

- Ferdinand de Saussure           :strukturalisme
- Carl Marx                              : marxisme
- Julia Kristeva             : StrukturalismePsikoanalisis! Feminisme,.
- Edward                                  : Kolonialisasi tidak berhenti ketika penjajah pergi meninggalkan negara jajahannya.
- Theodor Adorno                    :Industri Budaya.
 - Antonio Gramsci                   : hegemoni!.
- Carl Jung                               :Seorang ahli psikologi ternama.

- Noam Chomsky                     :,sintaksis mentalis yang berlawanan konsep dengan bloom,mekkhanis,yang 'intelektual paling hebat'.
- Bukan manusia yang membuat bahasa. Malah sebaliknya. hipotesis hebat Sapir dan Whorf yang mengantisipasi teori-teori post-structuralism.
- Elaine Showalter                    : menatap bahagia masa depan feminisme.
- Roland Barthes                      : Kritikus sastra dan budaya.
- Raymond Williams                 : Cultural Studies!
- Michel Foucault                     :. Pemikir dan pembicara yang hebat.
- Simone De Beauvoir              :. Bertanggung jawab untuk 'masterpiece' feminisme berjudul 'The Second Sex'.
- Joseph Campbell                    : punya banyak cerita 'mitos' yang dia bisa bagi.
- Berandalan kritik sastra no. 1: Terry Eagleton sang revolusioner!

- Helene Cixous                        :yang percaya akan kesubversifan 'tubuh'.
- Georg Lukacs                        : yang percaya akan kekuatan transformatif sastra realis.

- Fredric Jameson                     :, pengungkap sisi tak-sadar teks budaya.





KESIMPULAN

Teori studi budaya telah membuka kepada satu kajian budaya yang lebih mendalam menyeluruh dan sistematik terhadap teks-teks sastra. Sebetulnya kajian budaya dalam bidang sastra sudah berlaku sejak awal lagi. Namun, sebelum ini kajian sastra mengenai usur-ubsur budaya hanya dilakukan dalam aspek-aspek tertentu saja. Dengan kemunculan zaman pascamoden aspek budaya telah menguasai seluruh kehidupan manusia dan banyak karya-karya sastra yang menyentuh tentang budaya.Akibat daripada ini,para pemikir sastra berpendapat bahwa perlunya menunjukkan teori sastra yang berorientasikan budaya.Kajian budaya mempunyai hubungan dengan budaya global,pascamodenisme, pasca industrialisme dan ekstasi ekonolobido yang sejalan dengan perkembangan teknologi  maklumat dan komukkasi massa.teori studi budaya mengaji teks-telks sastra  daripada sudut budaya dan hubungannya dengan budaya material (cultural materialis). Ia juga meneliti tentang budaya sosial dan kekuasaan serta kesan-kesannya kepada manusia seluruhnya. Sesungguhnya teori studi budaya, sesuai dengan definisi konsep budaya yang mencakup keseluruhan hidup itu ,ia amat luas,elektikal,dan inter disiplin. Teori ini mengingikan sebuah budaya yang bergerak,bertamadun,dan sesuai dengan harga dan nilai manusia itu sendri.teori ini sangat menyanjung teks-teks yang menggambarkan perjuangan individu atau masyarakat dalam membina tamadun yang sempurna.Tamadun yang sempurna hanya datangnya daripada budaya Islam.


MANUSIA DAN KEBUDAYAAN



A.    Latar Belakang

            Manusia, pada hakikatnya merupakan mahluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna karena memiliki akal, perasaan dan pikiran yang lebih dibanding mahluk lainnya. Manusia adalah mahluk sosial yang secara perspektif merupakan mahluk yang tak bisa hidup sendiri dan selalu membutuhkan bantuan orang lain. Kehidupan manusia saling berkaitan satu sama lain, karena di dunia ini tidak ada manusia yang tidak membutuhkan orang lain. Hal ini terwujud dengan adanya organisasi-organisasi masyarakat dan keterkaitan yang saling membutuhkan antar individu yang berbeda-beda profesi. Selanjutnya manusia merupakan mahluk yang berkembang biak. Manusia di dunia ini terus mengalami regenerasi. Semua hakikat manusia tersebut mendatangkan konsekuensi dan memerlukan pertanggungjawaban yang besar sebagai individu dapat mengarahkan dirinya sendiri kearah yang lebih baik dan dapat pula menentukan sendiri jalan hidupnya.
            Apabila kita bicara tentang manusia pasti tidak lepas dari cara hidup dan tata cara sosialisasinya. Yaa, kebudayaan pun turut memengaruhi kehidupan manusia. Kebudayaan merupakan filosofi, cara hidup dan cara pandang yang terbentuk dari sekelompok manusia dan mencerminkan kepribadian kelompok tersebut. Namun, akhir-akhir ini mayoritas masyarakat kita salah dalam mengartikan persepsi kebudayaan yang sebenarnya. Dapat dikatakan bahwa arti kebudayaan mengalami penyempitan makna, karena kita lebih sering memandang arti kebudayaan hanya dilihat dari sisi seninya saja. Padahal termasuk di dalamnya kebudayaan adalah kesenian, kepribadian, cara hidup, kepercayaan, dan adat istiadatnya yang secara global mencerminkan jiwa suatu kelompok masyarakat.
            Di dunia ini, begitu banyaknya manusia pasti memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Secara global, kebudayaan dibagi menjadi 2, yaitu: Kebudayaan Barat dan Kebudayaan Timur.
                               
A.PENGERTIAN MANUSIA


Arti manusia Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Sedangkan secara istilah, manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu. Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna didunia. Hal ini dikarenakan hanya manusia yang memiliki akal dan pikiran. Oleh sebab itu, manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia juga merupakan makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi. Interaksi tersebut dapat terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok. Oleh sebab itu, manusia mempunyai suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat terus menerus, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. 

Pengertian Manusia Menurut Para Ahli Berikut merupakan definisi manusia menurut para ahli:
1. NICOLAUS D. & A. SUDIARJA 
    Manusia merupakan bhinneka yang tunggal. Hal ini karena Bhinneka adalah jiwa dan raga. Akan       tetapi tetap tunggal karena jiwa dan raga mereka adalah satu pasang.
2. UPANISADS 
    Manusia adalah gabungan dari beberapa roh ataupun seluruh roh, jiwa, pikiran, dan fisik.
3. KEES BERTENS 
    Manusia merupakan mahluk yang terdiri atas dua bagian yang kesatuannya tidak dapat didefinisikan dengan nyata. 
4. ERBE SENTANU 
   Manusia adalah mahluk yang diciptakan dengan sebaik-baiknya oleh Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan bisa dibilang bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk lain yang ada didunia. 
5. PAULA J. C & JANET W. K 
  Manusia adalah mahluk yang memiliki sifat terbuka, bebas memilih dalam hidupnya, dan menanggung tanggung jawab atas keputusan dengan turut menyusun pola yang unggul dengan berbagai kemungkinan.



B. PENGERTIAN HAKIKAT MANUSIA

Semua manusia pasti memiliki hakikatnya. Tapi, apakah arti hakikat manusia itu sendiri? Hakikat manusia ialah peran ataupun fungsi nyata yang harus dijalankan oleh setiap umat manusia didunia. Tetapi, hal tersebut tidak selalu benar karena banyak manusia yang tidak menjalankan peran ataupun fungsi nyata dengan benar, contonya melakukan kejahatan. 
Berikut merupakan pengertian hakikat manusia sebagai makhluk sosial dan individu: 
1. Manusia sebagai makhluk sosial Manusia adalah makhluk sosial, artinya manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Setiap manusia memerlukan orang lain untuk hidup bersama dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada perkembangan seperti zaman modern sekarang, manusia tidak hanya membutuhkan orang lain, tetapi juga membutuhkan sarana dan prasarana pendukung seperti lembaga-lembaga masyarakat ataupun Negara. 
2. Manusia sebagai makhluk individu, artinya mereka berusaha untuk selalu menghasilkan sesuatu untuk dijadikan kepentingan, kebutuhan, dan potensi pribadi yang dimilikinya. Hal tersebut akan terus berkembang dan selalu mengikuti perkembangan hidup manusia itu sendiri yang dialaminya dan perkembangan yang ada pada dirinya. 
Manusia juga memiliki wujud dan sifat hakikatnya, yaitu: 
1. Kemampuan Menyadari Diri = Kemampuan mengembangkan kesempatan yang ada, dan memperluas kearah kesempurnaan dan menyadarinya sebagai kekuatan. 
2. Kemampuan Bereksistensi = Manusia bersifat aktif dan manusia adalah manejer untuk lingkungannya. Pemilikan Kata Hati 
3. Kemampuan membuat keputusan tentang sesuatu yang baik dan buruk baginya. Cara meningkatkan : Belajar dari apa yang sudah pernah dilakukan serta melatih pikiran dan emosional. 
4. Kemampuan Bertanggung Jawab = Segala sesuatu perbuatan harus sesuai dengan kodratnya karena manusia memiliki tuntutan yang harus dipenuhi.

C. PENGERTIAN KEBUDAYAAN 

    Kata kebudayaan berasal dari kata budh dalam bahasa Sansekerta yang berarti akal, kemudian menjadi kata budhi (tunggal) atau budhaya (majemuk), sehingga kebudayaan diartikan sebagai hasil pemikiran atau akal manusia. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kebudayaan berasal dari kata budi dan daya. Budi adalah akal yang merupakan unsure rohani dalam kebudayaan, sedangkan daya berarti perbuatan atau ikhtiar sebagai unsure jasmani sehingga kebudayaan diartikan sebagai hasil dari akal dan ikhtiar manusia. Kebudayaan = cultuur (bahasa belanda) = culture (bahasa inggris )= tsaqafah (bahasa arab), berasal dari perkataan latin : “colere” yang artinya mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti ini berkembanglah arti culture sebagai “segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam”.
  Dalam disiplin ilmu antropologi budaya, kebudayaan dan budaya itu diartikan sama (Koentjaraningrat, 1980:195). Namun dalam IBD dibedakan antara budaya dan kebudayaan, karena IBD berbicara tentang dunia idea tau nilai, bukan hasil fisiknya. Secara sederhana pengertian kebudayaan dan budaya dalam IBD mengacu pada pengertian sebagai berikut : 1. Kebudayaan dalam arti luas, adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. 2. Kebudayaan dalam arti sempit dapat disebut dengan istilah budaya atau sering disebut kultur yang mengandung pengertian keseluruhan sistem gagasan dan tindakan.


D. PENGERTIAN KEBUDAYAAN TIMUR 

     Kebudayaan Timur adalah kebudayaan yang cara pembinaan kesadarannya dengan cara melakukan berbagai macam pelatihan fisik dan mental. Pelatihan fisik dapat dicontohkan dengan cara menjaga pola makan dan minum ataupun makanan apa saja yang boleh dimakan dan minuman apa saja yang boleh di minum, karena hal tersebut dapat berpengaruh pada pertumbuhan maupun terhadap fisik. Sedangkan untuk pelatihan mental yaitu dapat berupa kegiatan yang umumnya/mayoritas dilakukan sendiri, seperti : bersemedi, bertapa, berdo’a, beribadah, dll.
     Kebudayaan timur yang dimaksud disini adalah sebuah kebudayaan diluar kebudayaan orang-orang eropa barat (bangsa eropa barat dan jajahannya). Kebudayaan timur muncul sebagai pembeda dari negara-negara yang pernah dijajah oleh bangsa eropa barat. Oleh karena itu munculah sebuah istilah barat dan timur. Hal yang paling dominan dari kebudayaan timur adalah adat istiadat yang masih dipegangteguh.Walaupun adat istiadat saat ini mulai pudar dan berubah. Selain itu hal yang dominan adalah konsep gotong royong,kebersamaan menjadi hal yang paling utama.

E. UNSUR KEBUDAYAAN

Ketika melakukan kunjungan ke luar daerah, ke luar kota, bahkan sampai ke luar negeri, kita akan selalu menemukan tujuh aspek budaya dalam masyrakat yang kita kunjungi tersebut, yaitu :
1. Sistem Bahasa
2. Sistem peralatan hidup dan Teknologi
3. Sistem ekonomi dan mata pencarian hidup
4. Sistem kemasyarakatan dan organisasi social
5. Ilmu Pengetahuan
6. Kesenian
7. Sistem kepercayaan agama
Ketujuh hal ini, oleh Clyde Kluckhohn dalam bukunya yang berjudul Universal Categories of Culture (dalam Gazalba, 1989: 10)., disebut sebagai 7 unsur kebudayaan yang bersifat universal (Culture Universals). Artinya, ketujuh unsur ini akan selalu kita temukan dalam setiap keadaan atau masyarakat di dunia. Unsur-unsur ini merupakan perwujudan usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup dan memelihara kesistensi diri dan kelompoknya.

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
1.     Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
·         alat-alat teknologi
·         sistem ekonomi
·         keluarga
·         kekuasaan politik
2.     Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
·         sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
·         organisasi ekonomi
·         alat-alat, dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
·         organisasi kekuatan (politik)
3.     C. Kluckhohn mengemukakan ada 7 unsur kebudayaan secara universal (universal categories of culture) yaitu:
·         bahasa
·         sistem pengetahuan
·         sistem tekhnologi, dan peralatan
·         sistem kesenian
·         sistem mata pencarian hidup
·         sistem religi

·         sistem kekerabatan, dan organisasi kemasyarakatan


F. WUJUD KEBUDAYAAN

Wujud kebudayaan dapat dibedakan menjadi tiga bagian yaitu:

o Wujud Gagasan Budaya dalam wujud gagasan/ide ini bersifat abstrak dan tempatnya ada dalam alam pikiran tiap warga pendukung budaya yang bersangkutan sehingga tidak dapat diraba atau difoto.Sistem gagasan yang telah dipelajari oleh setiap warga pendukung budaya sejak dini sangat menentukan sifat dan cara berpikir serta tingkah laku warga pendukung budaya tersebut. Gagasan-gagasan inilah yang akhirnya menghasilkan berbagai hasil karya manusia berdasarkan sistem nilai, cara berfikir dan pola tingkah laku. Wujud budaya dalam bentuk sistem gagasan ini biasa juga disebut sistem nilai budaya.

o Wujud benda hasil budaya Semua benda hasil karya manusia tersebut bersifat konkrit, dapat diraba dan difoto. Kebudayaan dalam wujud konkrit ini disebut kebudayaan fisik. Contoh: bangunan-bangunan megah seperti tembok cina, menhir, alat rumah tangga seperti kapak perunggu, gerabah dan lain-lain. Salah satu contoh kebudayaan di Mesir yaitu Piramida Dalam kenyataan sehari-hari ketiga wujud tersebut yaitu gagasan, perilaku dan benda hasil budaya tidak terpisahkan dan saling mempengaruhi. Contoh: salah satu unsur kebudayaan adalah sistem religi maka wujud budaya sistem religi adalah sebagai berikut:
1) Gagasan
2) Perilaku

o Wujud perilaku Budaya dalam wujud perilaku berpola menurut ide/gagasan yang ada. Wujud perilaku ini bersifat konkrit dapat dilihat dan didokumentasikan (difoto dan difilm). Contoh: Petani sedang bekerja di sawah, orang sedang menari dengan lemah gemulai, orang sedang berbicara dan lain-lain. Masing-masing aktivitas tersebut berada dalam satu sistem tindakan dan tingkah laku.salah satu contoh Wujud perilaku dalam kebudayaan adalah Tari.

G. ORIENTASI ILMU KEBUDAYAAN

 Terdapat banyak nilai kehidupan yang ditanamkan oleh setiap budaya yang ada di dunia. Nilai kebudayaan pasti berbeda-beda pada dasarnya tetapi kesekian banyak kebudayaan di dunia ini memiliki orientasi-orientasi yang hampir sejalan terhadap yang lainnya. Jika dilihat dari lima masalah dasar dalam hidup manusia, orientasi-orientasi nilai budaya hampir serupa. Secara fungsional sistem nilai ini mendorong individu untuk berperilaku seperti apa yang ditentukan. Mereka percaya, bahwa hanya dengan berperilaku seperti itu mereka akan berhasil (Kahl, dalam Pelly:1994). Sistem nilai itu menjadi pedoman yang melekat erat secara emosional pada diri seseorang atau sekumpulan orang, malah merupakan tujuan hidup yang diperjuangkan. Oleh karena itu, merubah sistem nilai manusia tidaklah mudah, dibutuhkan waktu. Sebab, nilai – nilai tersebut merupakan wujud ideal dari lingkungan sosialnya. Dapat pula dikatakan bahwa sistem nilai budaya suatu masyarakat merupakan wujud konsepsional dari kebudayaan mereka, yang seolah – olah berada diluar dan di atas para individu warga masyarakat itu. Lima Masalah Dasar Dalam Hidup yang Menentukan Orientasi Nilai Budaya Manusia ( kerangka Kluckhohn ) :
1. Hakekat Karya •Karya itu untuk menafkahi hidup •Karya itu untuk kehormatan.
2. Persepsi Manusia Tentang Waktu •Berorientasi hanya kepada masa kini. Apa yang dilakukannya hanya untuk hari ini dan esok. Tetapi orientasi ini bagus karena seseorang yang berorientasi kepada masa kini pasti akan bekerja semaksimal mungkin untuk hari-harinya. •Orientasi masa lalu. Masa lalu memang bagus untuk diorientasikan untuk menjadi sebuah evolusi diri mengenai apa yang sepatutnya dilakukan dan yang tidak dilakukan. •Orientasi masa depan. Manusia yang futuristik pasti lebih maju dibandingkan dengan lainnya, pikirannya terbentang jauh kedepan dan mempunyai pemikiran nyang lebih matang mengenai langkah-langkah yang harus di lakukann nya. 
3. Pandangan Terhadap Alam •Manusia tunduk kepada alam yang dashyat. •Manusia berusaha menjaga keselarasan dengan alam. •Manusia berusaha menguasai alam.
4. Hubungan Manusia Dengan Manusia •Orientasi kolateral (horizontal), rasa ketergantungan kepada sesamanya, barjiwa gotong royong. •Orientasi vertikal, rasa ketergantungan kepada tokoh-tokoh yang mempunyai otoriter untuk memerintah dan memimpin. •Individualisme, menilai tinggi uaha atas kekuatan sendiri.

H. PERUBAHAN KEBUDAYAAN 


Perubahan (dinamika) kebudayaan adalah perubahan yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda, sehingga terjadi keadaan yang tidak serasi bagi kehidupan. Definisi perubahan (dinamika) kebudayan menurut para ahli, antara lain sebagai berikut. A. John Lewis Gillin dan John Philip Gillin Perubahan kebudayaan adalah suatu variasi dari cara-cara hidup yang disebabkan oleh perubahan-perubahan kondisi geografis kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi dan penemuan baru dalam masyarakat tersebut. B. Samuel Koenig Perubahan kebudayaan menunjuk pada modifikasimodifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi-modifikasi tersebut terjadi karena sebab-sebab internal maupun eksternal. C. Selo Soemardjan Perubahan kebudayaan adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan yang memengaruhi sistem sosial, termasuk nilai-nilai, sikap, dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat D. Kingsley Davis Perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi dalam struktur masyarakat.
Faktor-faktor internal penyebab perubahan kebudayaan, antara lain sebagai berikut.
• Adanya ketidakpuasan terhadap sistem nilai yang berlaku.
• Adanya individu yang menyimpang dari sistem nilai yangberlaku.
• Adanya penemuan baru yang diterima oleh masyarakat.
• Adanya perubahan dalam jumlah dan kondisi penduduk. Faktor-faktor eksternal penyebab perubahan kebudayaan, antara lain sebagai berikut.
• Adanya bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, dan lainlain.
• Timbulnya peperangan.
• Kontak dengan masyarakat lain.

I. HUBUNGAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN


    Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian – kejadian yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Kebudayaan berasal dari kata budaya yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Definisi Kebudyaan itu sendiri adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Namun kebudayaan juga dapat kita nikmati dengan panca indera kita. Lagu, tari, dan bahasa merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang dapat kita rasakan.
  Secara sederhana hubungan antara manusia dengan kebudayaan ketika manusia sebagai perilaku kebudayaan,dan kebudayaan tersebut merupakan objek yang dilaksanakan sehari-hari oleh manusia Di dunia sosiologi manusia dengan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal,maksudnya walaupun keduanya berbeda tetapi merupakan satu kesatuan yang butuh,ketika manusia menciptakan kebudayaan,dan kebudayaan itu tercipta oleh manusia.
   Contoh-Contoh Hubungan Antara Manusia dengan Kebudayaan :

1) Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan Contoh: Adat-istiadat melamar di Lampung dan Minangkabau. Di Minangkabau biasanya pihak permpuan yang melamar sedangkan di Lampung, pihak laki-laki yang melamar.

2) Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda ( urban dan rural ways of life) Contoh: Perbedaan anak yang dibesarkan di kota dengan seorang anak yang dibesarkan di desa. Anak kota bersikap lebih terbuka dan berani untuk menonjolkan diri di antara teman-temannya sedangkan seorang anak desa lebih mempunyai sikap percaya pada diri sendiri dan sikap menilai (sense of value)

3) Kebudayaan-kebudayaan khusus kelas sosial Di masyarakat dapat dijumpai lapisan sosial yang kita kenal, ada lapisan sosial tinggi, rendah dan menengah. Misalnya cara berpakaian, etiket, pergaulan, bahasa sehari-hari dan cara mengisi waktu senggang. Masing-masing kelas mempunyai kebudayaan yang tidak sama, menghasilkan kepribadian yang tersendiri pula pada setiap individu.

4) Kebudayaan khusus atas dasar agama Adanya berbagai masalah di dalam satu agama pun melahirkan kepribadian yang berbeda-beda di kalangan umatnya.

5) Kebudayaan berdasarkan profesi Misalnya: kepribadian seorang dokter berbeda dengan kepribadian seorang pengacara dan itu semua berpengaruh pada suasana kekeluargaan dan cara mereka bergaul. Contoh lain seorang militer mempunyai kepribadian yang sangat erat hubungan dengan tugas-tugasnya. Keluarganya juga sudah biasa berpindah tempat tinggal.