1. Definisi Teori Sastra Budaya
Teori
sastra budaya adalah usaha pembaca untuk melihat hubungan antara teks,pengarang
dan pembaca dengan sosial,politik,ekonomi,bahasa,agama dan kesenian hasil
refleksi terhadap pembasaan sebuah teks sastra.
Menurut
Niall Lucy (2000:234) teori ini bersifat disiplin dan eklektikal
yang menjadi saingan dengan bidang sastra perbandingannya itu. Graham
Holderness melihat budaya yang berhubungan dengan perjuangan,ketegangan dan
kontradiksi yang berlaku dalam sebuah budaya,yang konteks dengan ideologi dan
kekuasaan(1991:34). Sesuai sebagai teori konteks,yang melihat hubungan sastra
dan budaya teori ini memberi kesadaran budaya dalam
membentuk kehidupan. Cultural studes have evolved a method of describing
culture in action.
Alan
Sinfield(1992:9) menyatakan politik dan kekuasaan dalam teori budaya lebih
kuat dan dekat berbanding dengan teori lainnya terutama historisisme
baru. Teori sastra budaya menganalisis secara analitikal dan rinci serta masuk
kedalam budaya teks untuk memperlihatkan konsep politik dan
kekuasaan. Tujuan analisis teori budaya ialah mencoba memberi makna akan
tanda-tanda budaya yang terdapat dalam sebuah teks sastra dan mengarah kepada
aspek mengungguli kekuasaaan. Apa yang disuarakan oleh pengarangnya tentang
kekuasaan tidak lain adalah percikan budayanya.Alan Sinfied juga
menyatakan bahwa teori budaya mengkaji segala tindakan manusia
memasuki dan membentuk masyarakatnya (1992:291). Teori budaya tidak secara
langsung membicarakan konsep humanisme. Dalam konteks ini
juga,perubahan-perubahan selalu diiringi oleh irama zamannya atau
dia sendiri yang menciptakan irama perubahan itu. Alan Sinfield menghubungkan
kajiannya dengan budaya pascamoden,yang secara drastis budayanya tumbuh dan
berkembang dengan cepat dan tangkas. Pascamoden adalah suatu zaman
perubahan daya dan inilah yang dihadapi oleh teori budaya (Chow,Rey.1993:125)
SEJARAH PERKEMBANGAN TEORI SASTRA
2.1 Sejarah Pertumbuhan
Dasar-dasar bisa adanya teori sastra budaya
dimulai dari disiplin itu sendiri. Budaya sebagai disiplin ilmu
mempunyai sejarah panjang dan konsep yangpluralistis. Konsep atau
definisi budaya mempunyai artian yang selalu berubah-rubah. Menjelang dekat
1990-an,budaya sudah dikatakan telah muncul sebagai satu bidang disiplin yang
tersendiri,tidak menjadi bagian disiplin ilmu lain.
Persoalan kehidupan manusia yang sama
atau berbeda telah menaruh perhatian terutama apabila
orang-orang barat bertemu dan berhubungan
dengan dunia luar. Dalam pertemuan itu,mereka telah melihat
terdapat perlakuan yang berbeda antara yang biasa mereka lakukan dengan
orang-orang yang mereka temui itu. Penemuan serta pengetahuan-pengetahuan ini
dibawa balik ke barat oleh pengembara,pengembang-pengembang agama,para pedagang
serta pegawai kolonial. Untuk mengemukakan persamaan atau perbedaan yang tampak
dalam pola kehidupan itu,mereka telah membuat pembagian tentang budaya-budaya
pada masyarakat lain yang telah mereka temui berdasarkan kelakuan (behavior)
mereka. Akhirnya,kerangka penceritaan dan pemerian ini menjadi
dasar kepada pernyataan terhadap budaya sebagaimana yang telah dikemukakan oleh
Edward B.Tylor dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1871. Edward B.Tylor
telah mentakrifkan budaya sebagai “Satu keseluruhan yang kompleks mengandung
pengetahuan,kepercayaan,kesenangan,akhlak,undang-undang,adat dan kebolehan
serta tabiat lain yang diperoleh oleh manusia sebagai
angggota masyarakat (Morgan G,1994). Takrifan ini sangat terkenal
sehingga mempengaruhi disiplin-disiplin ilmu yang lain.
Budaya mempunyai sistem adaptif,yaitu bukan
saja dilihat dalam pengertian berkisar sesama manusia tetapi juga turut
diungkapkan tentang kehadiran manusia dalam lingkungannya yaitu melihat dari
segi human in environment. Manusia dianggap sama
seperti binatang karena manusia dilihat “terpaksa” mengikat hubungan adaptif
atau penyesuaian dengan ekosistem atau sistem ekologi mereka demi menjamin
kelangsungan hidup. Oleh karena itu,pada pandangan pedukung
perspektif ini,budaya ditakrifkan tidak lebih hanya satu cara yang
merujuk kepada teknik–teknik yang nyata dan dengan sekelompok penduduk
mengikatkan diri mereka pada sekitarnya. Pentakrifan di atas adalah berasaskan
kepada perkiraan bahwa alam jadi seperti persekitaran dan unsur-unsur
ideologikal memainkan peranan yang penting dalam mencorakkan kehidupan serta
kemajuan sebuah kelompok manusia. Tokoh yang mempelopori gagasan budaya sebagai
sistem adaptif termasuk Julian Steward,Leslie White dan Daryl Forde.
Gagasan ini kemudian dimajukan oleh Roy Pappaport,P.Vayda dan Marvin Harris
(Bennett,D.1993:62-68)
Dari takrifan di atas telah dihasilkan
beberapa andaian. Pertama,budaya adalah lebih kepada hanya untuk menyesuaikan
manusia dengan lingkungannya. Semua aspek budaya seperti ekonomi,pola
penempatan,politik,sistem kepercayaan ,sistem sosial sebagainya adalah
diwujudkan untuk menetapkan keseimbangan bagi hubungan antara manusia dengan
alam sekitarnya. Perubahan yang berlaku disebabkan kerusakan keseimbangan yang
berlaku karena ada kerusakan dari aspek persekitaran demografi ataupun dalam
bidang teknologi. Jadi budaya sebagai sistem adaptif harus mengambil aspek-aspek
atau teknologi sebagai aspek terpenting dalam budaya tersebut.
Hakikat ini boleh dilihat melalui tulisan
White (1949) dan Harris(1974).White melihat dari sudut pertambahan penggunaan
tenaga akibat dari perubahan dalam kemajuan teknologi. Ketika Harris membahas
aspek ekonomi sebagai realiti utama kepada budaya. Malah pada pandangan beliau
kepercayaan atau agama adalah sengaja diwujudkan untuk menyamar tujuan ekonomi
tersebut. Gagasan beliau akhirnya lebih dikenal sebagai materialisme budaya
(1979). Beliau mengakui bahwa gagasan yang telah dikemukannya tetap relavan
hingga kini terutamanya dalam penyelidikan
budaya(1994:62). Paparport(1965) telah berjaya menghasilkan kajian yang
baik berdasarkan kepada konsep budaya sebagai sistem adaptif. Dalam pengkajian
melalui kaidah ini,Pappaport telah mengetengahkan budaya tembaga,yaitu
sekumpulan masyarakat orang asli yang hidup di pergunungan di Bishmarck di New
Guinea. Uraian ini berkisar tentang upacara kaiko yang dibuat dalam kerangka
konsep budaya sebagai suatu sistem adaptif.
Sungguhpun dalam takrifan budaya awal yang
telah dikemukakan oleh Linton (1940),Kluckhon,Kelly (2945) dan Kroeber(1949)
telah menyebut aspek mentalistik tetapi paradigmanya dilihat dan
lebih berteraskan kepada perlakuan. Setelah tahun 1950-an,mulai dilihat
usaha-usaha untuk mengalih paradigma tersebut di dalam berbagai disiplin ilmu
seperti dalam bidang pengajian budaya, linguistik maupun psikologi.
Dalam penelitian budaya,tokoh-tokoh seperti
Geertz, Goodenough,Hall,Schneider,Wallace telah mengajukan cadangan bahwa
budaya mengandungi bukan kelakuan tetapi uraian budaya berasaskan perlakuan
maka apa yang dilihat ialah perlakuan itu terkait dengan keadaan luaran seperti
di sekitarnya. .Sebaliknya,pandangan tehadap budaya berasaskan minda atau
idea itu memberikan penekanan kepada pancaran dalaman. Pada pandangan pendokong
aliran ini,seorang penyelidik akan gagal mengungkap sebuah budaya seandainya
hanya melihat kepada aspek perlakuan saja.
Dalam takrifan ini pengetahuan secara tipikal
mengandung rumus-rumus yang membutuhkan seseorang membuat ketentuan seperti
dimana mau tinggal,bagaimana masyarakat dijeniskan,bagaimana perbedaan harus
dinyatakan, bagaimana perasaan seseorang tentangnya dan sebagainya. Pembangunan
konsep budaya seperti ini selain pengaruh dari beberapa ahli teori Eropa
seperti Pisaget ,Saussure dan Levi-Sttrauss adalah didorong oleh
perkembangan komputer. Budaya dilihat sebagai suatu sistem pengumpulan
maklumat. Dalam hal ini Geertz telah mengemukakan takrifannya dalam
bukunya the interpretation of culture(1973) seperti berikut:
“Budaya ialah satu pensejarahan pemindahan pola-pola makna yang terkandung
dalam lambang-lambang itu manusia berhubungan, melanjut dan membangun
pengetahuan dan sikapnya terhadap kehidupan”.
Menurut
Geertz budaya sistem makna serta lambang itu bukan saja berperan sebagai ilmu
pegetahuan tetapi ia juga dikongsi bersama,ataupun di istilahkan
oleh Geertz sebagai bersifat publik atau awam. Untuk menunjukan kedudukan
ini,ia boleh dianalogi dengan menggunakan bahasa. Dari satu segi,bahasa adalah
pengetahuan yang terletak dalam idea seorang manusia. Dibalik hakikat
itu,bahasa merupakan fenomena awam serta bahasa adalah tersedia wujud sebelum
anggota barunya lahir. Anggota yang baru lahir itu perlu mempelajari bahasa
tersebut dan bukan untuk disimpan tetapi digunakan dikalangan
mereka. Tidak semua orang mengetahui semua perkataan dalam suatu bahasa
dan tidak pula boleh menggunakannya dengan sepenuhnya. Perubahan bahasa tidak
bergantung kepada individu. Sebagai alat atau lambang perhubungan dalam sebuah
masyarakat,bahasa akan dapat terus kekal walaupun terdapat individu yang
meninggal dalam sebuah kelompok masyarakat tersebut. (Cashmore,Ellis dan Rojek
Chris,1999:184)
Budaya juga dapat dilihat dari
proses sosial,penciptaan dan penggunaan makna serta lambang sudah tentu tidak
berlaku secara perseorangan. Ia berlaku di dalam proses sosial,yaitu proses
perhubungan di kalangan sesama anggota masyarakat berkenaan. Contoh pembinaan
makna dan lambang yang dikongsi ini dengan menggunakan ilustrasi
anjing dan sebatang kayu. Antara tuan dengan anjing tersebut tercipta perkongsian
makna dan lambang,yaitu apabila tuan melemparkan batang kayu berkenaan,anjing
itu akan mengejar dan membawanya semula kepadanya.
Belakangan ini,budaya hanya dianggap sebagai
sebuah persembahan atau maksud artifak. Budaya dipersembahkan sebagai suatu
proses sosial dengan setiap anggota masyarakatnya bertindak mengikuti tafsiran
sendiri terhadap sistem makna dan lambang yang ada penyelidikan budaya dalam
konteks proses sosial juga dianggap sebagai mentafsir yaitu penyelidik
mentafsir atau menginterpretasi budaya(lambang dan makna) masyarakat yang
diterkaitnya itu. Walaupun lebih berupa interpretasi tetapi penyelidikan budaya
dalam konteks ini perlu dibentuk dalam konteksya dan mempunyai
latar belakang uraian yang lengkap. Biasanya penyelidikan dalam
konteks ini cenderung untuk mentafsir makna dan lambang di dalam kehidupan
sebuah masyarakat itu mengikuti pandangan natif atau tempatan karena itu juga
akhir-akhir ini penyelidikan budaya telah mengubah tumpuannya dari mengatasi
aktivis sosial kepada keterangan berupa
kategori, metafora,retorik,mimpi,cerita dan sebagainya.
Kebanyakan penyelidikan yang mengambil lambang
dan makna akan mentafsirkan berdasarkan kepada kerangka teori Marxisme yang
digunakan secara longgar seperti kelas sosial,kapitalisme dan sistem
ekonomi dunia. Mereka berpendapat bahwa lambang dan makna itu lebih baik
dilihat dalam konteksnya berbanding dengan penerangan sistematik
begitu saja dan pembinaannya terkait erat dengan kepentingan ekonomi dan
politik. Oleh karena itu,lambang dan makna yang dianggap wujud di
dalam proses sosial itu senantiasa saja memperlihatkanpertelingkahan tentang
(atas) lambang dan makna itu. Penyelidikan yang telah dikemukakan oleh
James Scott di atas adalah dalam pendekatan tersebut. Beliau telah
meneliti ke atas unsur-unsur budaya seperti umpat-mengumpat,mencaci nama dan
cerita-cerita lisan bagi melihat pertentangan penduduk (petani) miskin ke atas
orang kaya di kampung mereka. Kesemua itu bukanlah hanya merupakan
“Senjata-senjata” kecil mereka untuk mencabar penguasaan dan
penindasan yang dilakukukan oleh kelas atasan terhadap mereka. Senjata kecil di
atas dikategorikan sebagai ideologi.
Kemunculan disiplin pengkajian budaya telah
membawa jalur lain dalam pentakrifan budaya. Pengkajian budaya menggunakan
konsep budaya dalam pengertian yang menjurus dan sempit
yaitu: “Pencapaian kahalusan artistik dan estetik yang tertinggi
dalam sebuah masyarakat yang kompleks”. Pengertian itu
adalah pengertian awal budaya yaitu sebagai seni tinggi. Kemunculan disiplin
pengkajian budaya juga serta takrifan budaya yang dipakainya adalah dipengaruhi
oleh teori kritik sastra dan seni pascamoden dan juga perspektif feminisme.
Pokok pembahasan budaya dalam
kerangka konsep ini ialah tentang aspek bentuk,simbolis dan
makna,proses pengeluarannya,hegemoni,kuasa serta pengetahuan. Di dalam konsep
budaya secara antropologikal,telah mengenepikan aspek-aspek di atas di dalam
penelitian mereka. Umpamanya,seorang penyelidik budaya yang telah membuat kerja
lapangan di New Guinea,ia hanya tertegun kepada kepurbaan arah hidup
mereka. Akibatnnya,beberapa dimensi budaya yang lain seperti kedudukan
persejarahan dan pengeluaran kuasa hagemoni makna budaya
dilupakan begitu saja. Para penyokong feminis dan pos-Marxis menegaskan
,penyelidikan budaya dalam pengkajian budaya lebih tertarik kepada persoalan
hagemoni dan dominasi yang tersembunyi di balik bentuk-bentuk budaya yang
dikategorikan sebagai seni tinggi.
2.2 Kemunculan Sebagai
Teori Sastra
Historisme baru dibina oleh golongan new
historian dengan slogannya back to the history,tokohnya
yang paling terkenal ialah Stephen J. Greenblatt,yang pada peringkat
awalnya menamakannya dengan cultural poetics atau puitika
budaya. Dapat ditegaskan bahwa teori sastra budaya berasal dari pada
pemikiran sastra dan metode kritikan yang digunakan oleh
Richard Hoggart dan Raymond Williams,yang kedua-duanya berasal dari
tradisi kritikan marxisme british.
Richard Hoggat (1918-)adalah profesor bidang
pendidikan yang banyak berkhidmat di universitas di England.
Pengkhususan kajian ialah dalam kulturalisme,kritikan praktikal dan demokrasi
sosial .
Teori budaya yang menjelma menjadi teori
sastra itu berasal dan berakar daripada pemikiran-pemikiran pasca perang dunia
kedua,akhir kurun kedua ke arah pembentukan budaya baru termasuk konsep modenisme, indutrialisasi,
purbanisasi,teknologi dan komunikasi massa.
Dalam kajian Raymond William,pemikiran dan
analisis berasaskan bacaannya kepada teks-teks romantitisme.
Teks-teks romantitis memiliki unsur-unsur kemanusiaan yang mendalam dan
semangat revolusioner.
Pada 1970-an,cultural studies dimasuki oleh
pemikiran dan konsep yang dikemukakan oleh Antonio Gramsci yaitu tentang
hagemoni: term denoting invisible relations of cultural or intellectual
domination. Roger Webster(1990:63) menyataan bahwa teori studi budaya
sangat terhutang budi dengan konsep hagemoni melalui pemikiran Gramsci. Konsep
hegemoni mempunyai hubungan dengan ideologi,kuasa dan pengaruh.
Dalam buku Louis Althusser ideology
dan ideological state apparatuses1971 menjelaskan sebuah upaya
yang maju tidak saja sebagai pengeluar material juga pengeluar misyen-misyen dan
seluruh tenaga daripada berbagai sudut sosial dan budaya mesti menyokong ke
arah pengeluaran misyen–misyen tersebut.
Dapat dibuktikan teori studi
budaya,sebenarrnya sudah mempunyai sejarahnya yang panjang. Pada tahun 1990-an
,ia mengikhtiarkan dirinya sebagai sebuah teori sastra yang mandiri. Suatu
aspek yang perlu ditegaskan bahwa teori studi budaya erat kaitannya dengan
perkembangan pendidikan,justru ia menjadi ciri terpenting dalam konsep budaya.
Seandainya historisme baru dekat dengan sejarah ,psikoanalisis dengan psikologi
atau marxisme dengan masyarakat,maka teori budaya dekat dengan dunia
pendidikan.(Womack,Kenneth,(1999:596- 597).
Bloom merupakan seorang profesor yang terkenal
pada masa itu yang juga terlibat di dalam The Committee On Social
Thought dan turut mengajar di kolejuniversity of
Chicago telah mengkritik mengenai keadaan kemanusiaan pada masa itu
yang dikatakan sudah ketinggalan zaman,zaman seperti atlantis yang telah
tenggelam. (Wolfrey,Juniem,1999:596)
Sebagai tambahan,Bloom juga telah mengkritik
motif-motif lural oleh para penyokong penggubalan kanun.
Bloom juga mendukung mengenai penemuaan-penemuan kesusastraan yang terkenal
yang datang dari barat dan juga pemusatan budaya,karena mereka
menembusi membaca-membaca muda.
Sejak tahun 1990-an hingga ke penghujungnya
dan seterusnya memasuki abad ke-21,kritikan teori sastra budaya terus
berkembang dalam cara-cara yang kentara dengan penuh tanda tanya. Perkembangan
teknologi dan komunikasi yang tidak terdapat pada era abad ke-21 ini,
pengkajian budaya semakin dipelbagaikan dan bidang kajiannya semakin terbuka
luas.
2.3 Pembinaan Teori
Kejayaan teori ini berpisah dengan
new historisme karena keengganannya masuk ke dunia sejarah telah
membolehkannya membina tradisi kritikan
yang tersendiri (Hawthorn,Jeremy,1996:5). Teori ini telah membuktikan bahwa ia
tidak ada kesesuaiannya dengan pemikiran konsep wacana yang menghubungkan
dengan sejarah yang dibawakan oleh Faucalt Hawthorn,Jeremy,1996:33). The
achievements of cultural studies is allowing stuents of literature arises and
gives access to. (Hawthorn, Jeremy,1996:228)
Tiga orang tokoh sering dikaitkan dengan
pembinaan teori budaya ini mereka ialah J.Hillis Miller,Ian Chambers
dan Alan Sinfield. Menurut pendapat Miller,manusia kini adalah
pelanggan budaya dan dunia global terkini menyediakan berbagai warna dan
persilanngan budaya,maka kita haruslah pandai memilih yang sesuai dengan diri
dan masyarakat kita,jika tidak budaya manusia aka menuju kehancuran, cultural
has a new meaning now. (1999:606-610)
Dewasa ini,masayarakat bergerak ke budaya
hybrid,suatu proses intertekstual berbagai budaya dan membentuk budaya hasil
persilangan atau perkawinan antara budaya yang berbeda. Budaya hibrida yang
dikemukakan oleh Homi Bhabha memiliki dasar budaya asal tetapi akibat daripada
persilangan budaya lain ialah tidak lagi membawa
seaslinya.(Yasraf Amir Piliang, 1998:172). Sapardo Djoko
Damono,mengatakan bahwa sastra Indonesia mencapai kemajuannya karena ia
bersifat hibrida,hasil persilangan dengan sastra daerah dan sastra Eropa.
Yang paling relevan di sini ialah
bahasa dalam pascastrukturalisme kajian tentang budaya sebagai sistem tanda
dengan itu makna budaya dapat dipahami melalui tanda-tanda. Pada akhirnya kita
semua terjebak dalam bahasa dan kita memperoleh budaya melalui bahasa kita
adalah makluk yang berbicara . Untuk memahami budaya,kita mesti mengerti
struktur yang berfungsi di dalamnya dan pola dasar yang
membentuknya(Osborne,Richard dan Van Loon,Borin, (1998:115). Hubungan teori
sastra budaya dengan pascastrukturalisme,diakui oleh Jeremy Howthon
(1994:133-134),tidak saja secara teorikal juga falsafah dan praktisnya. Ini menunjukan bahwa
kaidah operasi teori budaya ialah dipengaruhi atau menggunakan
mekanisme semiotic dan intertekstualiti.
Singkatnya,karena budaya ini mencampurkan
segala disiplin dari dekonstruksi dan pascamodenisme ke
kajian gender dan kritikan envilomental. Ia adalah teori yang paling
sesuai menangani isu globalisasi terkini.
Proses terbentuknya teori budaya menjadi teori
sastra:
§ Sejarahnya
bermula dengan epistemologi budaya, yang konsepnya dan pendekatan-pendekatannya
mengenal susunan kehidupan dan mempunyai kaitan budaya sebagai tata hidup,yang
bukan hubungannya tamadun dan kuasa. Ia bersifat kompleks,pluralistik juga
relativisme.
§ Munculnya
fahaman cultural materialisme yang sejalan dan bersahabat dengan historisme.
§ Berpecah
daripada historisisme baru dan mengikhtiarkan sebagai studi budaya.
Beberapa dasar kaidah analisis teks ialah:
§ Mengkaji
bagaimana wacana budaya beroperasi dalam mengungguli ideologi kekuasaannya.
§ Mengkaji
indvidu dalam pembentukan individualiti dalam gerakan budayanya yang
dihubungkan dengan pembentukan sosial yang mengarah pada konsep kehebatannnya.
§ Meneliti
pergolakan pembudayaan,terutamanya,dalam aspek pendidikan, ekonomi,sosial dan
sebagainya.
§ Meneliti
kekayaan,pelestarian dan pertanda artifak.
§ Menganalis
realiti struktur ideologi budaya pascamoden dan pascakolonial termasuklah
konsep hibridisme.
Dalam menggunakan paradigma kritikan teori studi budaya,beberapa
pendekatan yang sesuai boleh diaplikasikan seperti meneliti aspek latar budaya
teks atau citra budayanya, meneliti perjuangan-perjuangan individu atau
masyarakat,menganalisis kekuasaan budaya terutamanya aspek politik dan
pengaruhnya dalam kehidu[pan sambil memberi penekanan kepada sudut
artifak daripada sudut nilai dan perubahan yang dihadapinya.
- Freud ala
surealis :sastra
budaya
- Ajo Derrida :dekonstruksi
- Kate Millett : Feminis!
- Ferdinand de Saussure :strukturalisme
- Ajo Derrida :dekonstruksi
- Kate Millett : Feminis!
- Ferdinand de Saussure :strukturalisme
- Carl
Marx :
marxisme
- Julia Kristeva : StrukturalismePsikoanalisis! Feminisme,.
- Edward : Kolonialisasi tidak berhenti ketika penjajah pergi meninggalkan negara jajahannya.
- Theodor Adorno :Industri Budaya.
- Julia Kristeva : StrukturalismePsikoanalisis! Feminisme,.
- Edward : Kolonialisasi tidak berhenti ketika penjajah pergi meninggalkan negara jajahannya.
- Theodor Adorno :Industri Budaya.
- Antonio
Gramsci :
hegemoni!.
- Carl Jung :Seorang ahli psikologi ternama.
- Noam Chomsky :,sintaksis mentalis yang berlawanan konsep dengan bloom,mekkhanis,yang 'intelektual paling hebat'.
- Bukan manusia yang membuat bahasa. Malah sebaliknya. hipotesis hebat Sapir dan Whorf yang mengantisipasi teori-teori post-structuralism.
- Elaine Showalter : menatap bahagia masa depan feminisme.
- Roland Barthes : Kritikus sastra dan budaya.
- Raymond Williams : Cultural Studies!
- Michel Foucault :. Pemikir dan pembicara yang hebat.
- Simone De Beauvoir :. Bertanggung jawab untuk 'masterpiece' feminisme berjudul 'The Second Sex'.
- Joseph Campbell : punya banyak cerita 'mitos' yang dia bisa bagi.
- Berandalan kritik sastra no. 1: Terry Eagleton sang revolusioner!
- Helene Cixous :yang percaya akan kesubversifan 'tubuh'.
- Georg Lukacs : yang percaya akan kekuatan transformatif sastra realis.
- Fredric Jameson :, pengungkap sisi tak-sadar teks budaya.
- Carl Jung :Seorang ahli psikologi ternama.
- Noam Chomsky :,sintaksis mentalis yang berlawanan konsep dengan bloom,mekkhanis,yang 'intelektual paling hebat'.
- Bukan manusia yang membuat bahasa. Malah sebaliknya. hipotesis hebat Sapir dan Whorf yang mengantisipasi teori-teori post-structuralism.
- Elaine Showalter : menatap bahagia masa depan feminisme.
- Roland Barthes : Kritikus sastra dan budaya.
- Raymond Williams : Cultural Studies!
- Michel Foucault :. Pemikir dan pembicara yang hebat.
- Simone De Beauvoir :. Bertanggung jawab untuk 'masterpiece' feminisme berjudul 'The Second Sex'.
- Joseph Campbell : punya banyak cerita 'mitos' yang dia bisa bagi.
- Berandalan kritik sastra no. 1: Terry Eagleton sang revolusioner!
- Helene Cixous :yang percaya akan kesubversifan 'tubuh'.
- Georg Lukacs : yang percaya akan kekuatan transformatif sastra realis.
- Fredric Jameson :, pengungkap sisi tak-sadar teks budaya.
KESIMPULAN
Teori studi budaya telah membuka kepada satu
kajian budaya yang lebih mendalam menyeluruh dan sistematik terhadap teks-teks
sastra. Sebetulnya kajian budaya dalam bidang sastra sudah berlaku sejak awal
lagi. Namun, sebelum ini kajian sastra mengenai usur-ubsur budaya hanya
dilakukan dalam aspek-aspek tertentu saja. Dengan kemunculan zaman pascamoden
aspek budaya telah menguasai seluruh kehidupan manusia dan banyak karya-karya
sastra yang menyentuh tentang budaya.Akibat daripada ini,para pemikir sastra
berpendapat bahwa perlunya menunjukkan teori sastra yang berorientasikan
budaya.Kajian budaya mempunyai hubungan dengan budaya global,pascamodenisme,
pasca industrialisme dan ekstasi ekonolobido yang sejalan dengan perkembangan
teknologi maklumat dan komukkasi massa.teori studi budaya mengaji
teks-telks sastra daripada sudut budaya dan hubungannya dengan
budaya material (cultural materialis). Ia juga meneliti tentang budaya sosial
dan kekuasaan serta kesan-kesannya kepada manusia seluruhnya. Sesungguhnya
teori studi budaya, sesuai dengan definisi konsep budaya yang mencakup
keseluruhan hidup itu ,ia amat luas,elektikal,dan inter disiplin. Teori ini
mengingikan sebuah budaya yang bergerak,bertamadun,dan sesuai dengan harga dan
nilai manusia itu sendri.teori ini sangat menyanjung teks-teks yang
menggambarkan perjuangan individu atau masyarakat dalam membina tamadun yang
sempurna.Tamadun yang sempurna hanya datangnya daripada budaya Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar